Posts

Tiga Tahun Lalu

Tangis saya meledak dihadapan lelaki yang berlabel suami malam itu. Meminta pembelaan dan dukungan atas segala tindakan keperempuanan saya yang sedang mendominasi diri. Akibat flu yang tak kunjung sembuh, akibat kurangnya tidur malam lalu, akibat hormon ovulasi, akibat ovethinking , akibat banyaknya informasi yang belum tercerna, dan akibat tiga tahun silam. Hari-hari ini grup whatsaap  berisik sekali. Bukan tentang pekerjaan apalagi bisnis. Ini sekedar tentang wacana rekreasi yang berdalih sebagai gelar pelepasan. Pelepasan untuk dua rekan kerja yang akan menemui kelulusannya pada perusahaan ini, dan pada waktu dekat ini. Rencana apapun diusulkan agar terjadi. Tanggal, bulan, bentuk acara, kegiatan, susunan acara, dan sampailah pada tempat kegiatan yang tertulis dan disetujui. Menginap diluar kota yang akhirnya adalah hal yang diiyakan. Sayangnya tidak pada sebagian kecil lainnya, yaitu saya. Tidak untuk berpartisipasi pada kata menginap. Namun, minoritas ini tidak bersuara dan me...

Bunga Layu dalam Jeratan

Berpendar suasana mengerikan pada sebingkai foto itu, lagi, lagi, dan lagi. Waktunya sesaat sebelum mata terpejam untuk tidur. Dikatakan trauma, tapi bukan. Saya bukan orang dekat yang ditinggal, sepertinya terlalu berlebihan klaim itu. Disebut takut, iya, tapi tidak sepenuhnya sebatas takut. Jangan berlebihan duhai diri! Segala sesuatu berlebihan selalu tidak baik, termasuk pada pemaknaan. Dalam sebingkai foto itu ditampilkannya suasana tidak mengenakkan, sang bunga layu didalam jeratan. Getahnya kering dipaksa habis. Direnggut detik, dilenyapkan hari dan hari. Pada jeratnya digambarkan sunyi dan pesakitan yang terkungkung. Sinyalnya tak sekalipun kami tangkap. Satu kali. Dua kali. Tiga Kali. Empat kali. Muak! Hanya sorot mata tajam dan keluhan yang terdengar. Bunga layu terasing dari peradabannya. Bunga sebatang kara dan tanpa duplikat. Bunga kesepian!  Tuhan bisakah munajat kami tersampaikan utuh? Kami hanya abdi yang simpati pada bunga layu itu. Jikapun kalam-Mu tanpa lapang, b...

Lekas Pulih

Beberapa hari lalu saya menangisi nasib ibu sebagai sosok istri. Rumah tangga seumur jagung ini membanding-bandingkan diri dengan yang telah berlangsung tiga puluh satu tahun itu. Saya menangis sejadi-jadinya, bagaimana dalam prosesnya seorang wanita dua puluh enam tahun itu tumbuh sebagai istri sekaligus ibu hebat dengan berbagai kekurangan dalam rumahnya. Surut pasang finansial , surut pasang godaan, surut pasang emosional, surut pasang cobaan, surut pasang amarah, surut pasang pesakitan, surut pasang kesedihan, surut pasang acuh tak acuh, surut pasang rasa kalut. Bahkan pada lanjut usianya, ada hal yang saya sembunyikan demi menjaganya tetap merasa utuh dalam rumah itu. Enam bulan berlalu bersama lelaki pilihan saya, saya malah semakin kagum dan bangga dengan perempuan cantik itu. Kau tahu kenapa? Enam bulan menjalani rutinitas singgah dari rumah ke rumah adalah hal melelahkan dari awal perjalanan rumah tangga setengah ldr ini. Hal lainnya adalah cuci baju yang tak kalah melelahkan...

Mimpi Anak Kecil dalam Dirinya

Pada suatu kegabutan yang menjerat dan segala sesuatu telah usai dikerjakan, core memori sial (dengan nada lembut) bejibun meminta diurai dengan detail bersamaan dengan maknanya, padahal sudah usang kejadiannya. Menyebalkan! Satu kalimat yang terlintas waktu magrib hari itu, yaitu perkataan nyeleneh dan sakit yang keluar lewat mulut seorang yang katanya salah satu tiket surga bagi saya, Bapak. Samar perkataan itu saya dengar kala itu, nadanya marah, sedangkan dia disisi kamar lain sedikit berteriak. Samar tak jelas satu persatu ejaan perkataan sampai pada akhir kalimatnya saya tertegun. Menahan nafas sampai sesak menjalar dari hati lalu ke mata yang menimbulkan tangis sejadi-jadinya. Inti dari perkataan dalam nada marahnya, saya adalah seorang anak yang tidak tahu terima kasih. Ucapan itu saya dengar saat baru saja saya menerima pinangan seorang lelaki yang bahkan aroma dan riuhnya tamu malam itu belum berlalu pergi barang sejam-dua jam. Jika memang tidak tahu terima kasih terucap saa...

Pertalian

Sudah lima bulan lalu cincin ini telah melingkar pada jari manis kanan saya. Lima bulan itu saya resmi menggandeng gelar sebagai seorang istri, tepatnya sejak 17 November 2024. Dua gram mas dan enam ribu bath adalah mahar saat itu. Barulah hari ini saya hendak menjabarkan detailnya, perasa seorang saya saat menghadapi pertalian. Semalaman saya tidur dengan nyenyak H-beberapa jam acara dimulai, nyeyak sekali, sampai akhirnya bangun saat beberapa menit lagi akan berkumandang adzan subuh. Tidak ada teman yang menemani sedari kemarin dan tidak ada perayaan bridal shower atau perayaan hari akhir melepas kelajangan. Hari yang ditentukan berjalan lancar sebab doa-doa dari yang tersayang. Keluarga, rekan, maupun teman-teman yang sengaja dilibatkan kehadirannya maupun tenaganya. Hanya saja ada satu kalimat pertanyaan yang mungkin hampir seratus kali saya layangkan pada lelaki disamping tempat duduk pelaminan itu.  "kita ngapain sih?!" dengan nada berseri, "kita ngapain sih?!...

Untuk Diri serta Duplikatnya

Tulisan ini saya tuju pada diri serta pada duplikatnya nanti saat menghadapi hari-hari sukar dimasa depan. Terbawa suasana dari menonton drama ' lovely runner ' dengan cerita seseorang melakukan time traveler dan bertujuan untuk memperbaiki masa lalu, yaitu menghindari kecelakaan yang mengakibatkan cacat, bahkan mencegah kematian seseorang. Cukup menarik bukan?! Namun hal baik itu sekedar karangan dari sutradaranya. Sebab faktanya, pada sesuatu yang telah menuai taburannya, dan pada sesuatu yang telah diterima konsekuensinya, adalah sebab akibat yang tak terpisahkan dan terelakkan dari perbuatan saat ini. Berandai sejenak jika saja saya mendapatkan kesempatan untuk ' time traveler ', jika mendapati pertanyaan "hal apa yang ingin saya ubah?!" dan dengan sumringah juga tegas saya menjawab "tidak!".  Biarkan segala sesuatu pada tempatnya, sebab saya menjalaninya dengan sadar. Begitupun dengan memilih untuk menikahi seseorang atau mungkin menjadi ibu...

Hallo 2024!

Hallo 2024! Lama ya tidak menulis dilaman ini.  Setelah kilas balik 2023 yang saya up lewat video singkat pada flatfrom Instagram dan TikTok ternyata saya masih perlu menulis. Ini dimaksudkan agar terperinci gambarannya.  Sebelum saya lanjutkan saya gambarkan terlebih dahulu tentang 2023 dengan satu kata " Wonderful  !". Setelah bertubi-tubi rasa bahagia dan kagum pada awal tahun hingga Juni menjelang dan Juli menyambut, akhirnya abu-abu ditimpakan pula berturut-turut. Sekitar bulan Agustus 2023 ayah divonis kanker prostat sekaligus batu ginjal. Disisi lain anak bungsunya sedang menjalani transisi pendidikan dari sekolah menengah atas ke tingkat perguruan tinggi, dan menantunya tengah mengandung cucu pertamanya. Bulan Agustus bukan hanya bulan terberat bagi pasien yaitu ayah, tapi juga terberat untuk semuanya termasuk Ibu. Ya, ini menjadi hal terberat bagi Ibu, sebab Ibu adalah manusia hebat yang menemani prosesnya dengan segala tuntutan pasien yang kadang menyebalkan. ...