Jakarta 2026
Hari ini tepatnya sudah minggu ketiga saya meninggalkan Jakarta sepenuhnya. Label bawah tulisan untuk menandai tempat dibuatnya tulisan tersebut tak akan lagi “Kalideres” secara terus menerus, sesekali nanti saya tidak menutup kemungkinan untuk kembali ke sana, tapi hanya sekedar bercengkerama barang satu atau dua jam mestinya. Sepenuhnya Jakarta bukan lagi menjadi penghidupan. Bukan lagi tempat pulang. Bukan lagi tempat penetapan. Bukan lagi tempat sibuk delapan sampai sembilan jam di depan monitor. Dan setelah Jakarta bukan lagi apa-apa, yang membuat gusar adalah fakta bahwa tak ada lagi sudut ruang atas nama pribadi diri dalam suatu organisasi atau instansi. Tak ada lagi yang menanyai ketidakhadiran saya. Tak ada lagi candaan ringan dalam hal-hal sepele. Namun sungguh disyukurinya juga tak ada lagi buah bibir yang simpang siur, tak ada lagi iri atas rasa individu lain, tak ada lagi bising pada tengah hari yang menyengat, tak ada lagi perasa tersiksa atas dosa masa lampau. Begitupun ...