Tiga Tahun Lalu

Tangis saya meledak dihadapan lelaki yang berlabel suami malam itu. Meminta pembelaan dan dukungan atas segala tindakan keperempuanan saya yang sedang mendominasi diri. Akibat flu yang tak kunjung sembuh, akibat kurangnya tidur malam lalu, akibat hormon ovulasi, akibat ovethinking, akibat banyaknya informasi yang belum tercerna, dan akibat tiga tahun silam.

Hari-hari ini grup whatsaap berisik sekali. Bukan tentang pekerjaan apalagi bisnis. Ini sekedar tentang wacana rekreasi yang berdalih sebagai gelar pelepasan. Pelepasan untuk dua rekan kerja yang akan menemui kelulusannya pada perusahaan ini, dan pada waktu dekat ini. Rencana apapun diusulkan agar terjadi. Tanggal, bulan, bentuk acara, kegiatan, susunan acara, dan sampailah pada tempat kegiatan yang tertulis dan disetujui. Menginap diluar kota yang akhirnya adalah hal yang diiyakan. Sayangnya tidak pada sebagian kecil lainnya, yaitu saya. Tidak untuk berpartisipasi pada kata menginap. Namun, minoritas ini tidak bersuara dan menyuarakan. Yasuda!
Setelah ditelisik tepatnya bukan karna menginap, tapi pada bagaimana mobilisasi kami untuk sampai dan pulang ke tujuan yang akhirnya otak memutar kembali saat-saat memalukan tiga tahun silam.

Memalukan. Kata tersebut adalah yang paling dapat menyimpulkan kejadian tiga tahun lalu. Bermula dari rekan kerja saya yang meminta rekomendasi penyewaan untuk alat mobilisasi dalam acara malam keakraban yang akan dilaksanan dibeda kota tersebut. Tanpa saya bicara, teman saya mengusulkan untuk menyewa hal tersebut pada Abang saya. Ya, beberapa rekan kerja memang tahu tentang profesinya sebagai pelaku usaha sewa transportasi. 
Singkatnya, hal tak tertuga terjadi saat sedang berlangsungnya perjalanan kegiatan tersebut. Sabtu-minggu itu grup whatsaap ramai dengan timpal-timpalan komplen untuk transportasi yang disewanya. Tidak mengisyaratkan nama, tidak menandai kontak sesiapa pada satu per satu komplennya, bahkan tidak tersurat jelas tujunya kemana. Tapi saya terusik.

Esoknya, saya dihantam habis-habisan keluh kesah, pertanyaan-pertanyaan, dan ungkapan kecewa dari banyak raut wajah diruangan kerja tersebut. Dalam masa yang banyak itu saya hanya diam dan melempar senyum kecut tanda tak tahu mana yang harus atau sekedarnya untuk ditanggapi. Sedih sekaligus marah suasana hari itu. Padahal, saya tidak ikut campur merekomendasikan untuk sewa transportasi pada siapapun, tidak terlibat dalam kondisi negosiasinya, tidak ikut berpartisipasi sedikitpun dalam rangkaian acaranya, bahkan tidak mau tahu. Namun, mengapa komplen tersebut terlalu tidak adil saya terima.

Dan pecahnya tangis tersebut setelah tiga tahun lalu itu karna saat saya ingin berpartisipasi dalam gelar perpisahan tersebut, berpendar-pendar menakutkan banyak kemungkinan yang akan terjadi, percakapan basi, tawa remeh, nada pesimistik, dan canda yang menyerang perasa, yang pada akhirnya memutuskan saya untuk tidak lagi melibatkan diri diluar dari pekerjaan.


Kalideres, 21 April 2026

Comments

Popular posts from this blog

Pertalian

Ayah.

Mimpi Anak Kecil dalam Dirinya