Rasa-rasanya saya di program sebagai manusia yang kebisaannya hanya sebatas belajar. Hingga pada akhirnya, setiap penerimaan pelajar awal tahun pelajaran, saya bingung. Resume manusia lain berjejalan dengan sederet prestasi dan tropi. Resume saya sebatas deretan akademik yang selesai begitu saja. Resume manusia lain berdesakan menggunakan font ukuran kecil yang memadatkan deretan kegiatan berbau potensial. Resume saya, berspasi jauh menghindari kekosongan yang banyak. Resume manusia lain berlanjut pada halaman selanjutnya. Resume saya bahkan selesai pada satu atau dua kali lirik. Pada kenyataannya, menghindari diri dari perbandingan adalah hal sulit. Akan selalu ada perkara untuk dibandingkan sekecil apapun. Kalideres, 19 Agustus 2022
Sudah lima bulan lalu cincin ini telah melingkar pada jari manis kanan saya. Lima bulan itu saya resmi menggandeng gelar sebagai seorang istri, tepatnya sejak 17 November 2024. Dua gram mas dan enam ribu bath adalah mahar saat itu. Barulah hari ini saya hendak menjabarkan detailnya, perasa seorang saya saat menghadapi pertalian. Semalaman saya tidur dengan nyenyak H-beberapa jam acara dimulai, nyeyak sekali, sampai akhirnya bangun saat beberapa menit lagi akan berkumandang adzan subuh. Tidak ada teman yang menemani sedari kemarin dan tidak ada perayaan bridal shower atau perayaan hari akhir melepas kelajangan. Hari yang ditentukan berjalan lancar sebab doa-doa dari yang tersayang. Keluarga, rekan, maupun teman-teman yang sengaja dilibatkan kehadirannya maupun tenaganya. Hanya saja ada satu kalimat pertanyaan yang mungkin hampir seratus kali saya layangkan pada lelaki disamping tempat duduk pelaminan itu. "kita ngapain sih?!" dengan nada berseri, "kita ngapain sih?!...
Berpendar suasana mengerikan pada sebingkai foto itu, lagi, lagi, dan lagi. Waktunya sesaat sebelum mata terpejam untuk tidur. Dikatakan trauma, tapi bukan. Saya bukan orang dekat yang ditinggal, sepertinya terlalu berlebihan klaim itu. Disebut takut, iya, tapi tidak sepenuhnya sebatas takut. Jangan berlebihan duhai diri! Segala sesuatu berlebihan selalu tidak baik, termasuk pada pemaknaan. Dalam sebingkai foto itu ditampilkannya suasana tidak mengenakkan, sang bunga layu didalam jeratan. Getahnya kering dipaksa habis. Direnggut detik, dilenyapkan hari dan hari. Pada jeratnya digambarkan sunyi dan pesakitan yang terkungkung. Sinyalnya tak sekalipun kami tangkap. Satu kali. Dua kali. Tiga Kali. Empat kali. Muak! Hanya sorot mata tajam dan keluhan yang terdengar. Bunga layu terasing dari peradabannya. Bunga sebatang kara dan tanpa duplikat. Bunga kesepian! Tuhan bisakah munajat kami tersampaikan utuh? Kami hanya abdi yang simpati pada bunga layu itu. Jikapun kalam-Mu tanpa lapang, b...
Comments
Post a Comment