Korban Ekspektasi.


Aku sulit bicara, kebebasannya sekedar undang-undang yang berseliweran di media atau sepatah pengertian dari manusia yang pura-pura mengerti. Aku membisu merayakan riuh sekalian remuk redam yang malah berkecamuk didalam. Sepi, kalimat-kalimat penyemangat atau sekedar kata tidak apa-apa tak pernah lagi jadi ampuh. Bahkan setelah genggaman tangan saling taut menaut menyalurkan kuat, aku malah semakin terisak. Sejurus kemudian dari sisiku laiinnya, aku menyumpah serapah keadaannya. Sial!

Beberapa hal yang kamu lihat adalah aku, adalah lain dari sisinya. Deretan tawa serta banyaknya guyon, tak lagi dapat terlepas saat tak sekalipun manusia dipelupuk. Sekalipun kamu adalah yang paling tahu, sesungguhnya kamu selalu bisa aku kelabui. Detik yang terus seenaknya kesana kemari masih saja tak dapat mengerakan kepekaanmu. Kamu masih saja kosong, terkikis logis, dan berlebih rasa. Sampai untuk waktu paling terlama, kamu masih nihil tindakan.

Jikapun tawaku ialah paling senonoh, tong kosong saja. Satu dua dari penghiburanmu tak lebih dari seonggok makanan yang telah lama disimpan. Jikapun tangisku menggerakan tanyamu, namun aku tak pernah benar-benar merasakan dalamnya sekedar kenapa atau mengapa. Pun jika raut wajahku tertangkap tak lagi berapi-api, beberapa kamu tak memberi kesempatan untuk aku berceloteh kekesalan. Padahal dalam opsi terakhirnya, aku menantikan iringan sumpah serapahmu bersama cerita sekali dua kaliku.

Sampai pada detik ini, aku telah begitu berdosa melibatkan perdebatan remehku pada kamu. Ekspektasimu menjadi beban atas spekulasiku. Menyudutkan aku untuk lebih keras melawan sisinya, padahal setelah diuji, aku masih saja terduduk bodoh ditinggalnya. Marah! Geram! kenapa tanyaku tak bisa diperdengarkannya. Lebih dari sekedar lelah tak pernah bisa mengeluarkan keluhnya. Aku, aku, korban pengharapanmu yang semakin ditekan semakin membungkam.

Comments

Popular posts from this blog

Pertalian

Ayah.

Mimpi Anak Kecil dalam Dirinya